
Nama : Muhammad Dzaki Al Fikri
Kelas : 1EA05
NPM : 14215542
Jurusan : Manajemen
Fakultas : Ekonomi
Dosen : Ary Natalina
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar
KATA PENGANTAR
Segala
puji dan syukur kepada sumber dari suara suara hati yang bersifat mulia, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat
serta salam teruntuk Nabi Muhammad SAW.
Di
balik terselesaikannya makalah ini, ada seorang yang bijak yang begitu
mendorong saya untuk menyelesaikannya. Ia sekaligus dosen kami, sumber
referensi utama dalam penulisan makalah ini. Saya haturkan rasa terimakasih
kepada beliau atas bimbingan dan ilmunya.
Makalah
ini disusun dengan harapan dapat memberikan inspirasi bagi pembaca mengenai “MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA”
yang saya sajikan berdasarkan
pengamatan dari berbagai sumber.
Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak yang
sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah selanjutnya.
Jakarta, 12 Oktober
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Kehidupan manusia sangatlah komplek, begitu pula hubungan yang terjadi
pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia
dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di
alam
, dan manusia dengan Sang Pencipta. Setiap hubungan tersebut harus berjalan
seimbang. Manusia juga harus
bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal dalam suatu
interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan
yang berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia dapat
membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara kewajiban dan yang
bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan harmonis
dan seimbang. Agar norma-norma tersebut berjalan haruslah manusia di didik
dengan berkesinambungan dari “dalam ayunan hingga ia wafat”, agar hasil dari
pendidikan –yakni kebudayaan– dapat diimplementasikan dimasyaakat.
Pendidikan sebagai hasil kebudayaan haruslah dipandang sebagai
“motivator” terwujudnya kebudayaan yang tinggi. Selain itu pendidikan haruslah
memberikan kontribusi terhadap kebudayaan, agar kebudayaan yang dihasilkan
memberi nilai manfaat bagi manusia itu sendiri khususnya maupun bagi bangsa
pada umumnya. Dengan demikian dapat
kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas
kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan
menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan
suatu bangsa.
1.2. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan
masalah dalam makalah ini adalah :
a.
Apa hakikat manusia dan budaya ?
b.
Manusia
sebagai makhluk budayaan ?
c.
Apa
pengertian Manusia, Sains, Teknologi dan Seni ?
d.
Apa
kelebihan manusia ?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Hakekat Manusia Dan Budaya
2.1.1. Pengertian Manusia
Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens”
(Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi
(mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah
konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus)
atau seorang individu. Dalam
hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living
organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan
secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik
lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial),
maupun kesejarahan.
Tatkala seoang bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan kehilangan
energi, dan oleh kaena itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang
dan kehilangan itu tergantikan. Dari sana timbul anggapan dasar bahwa setiap
manusia dianugerahi kepekaan (sense) untuk membedakan (sense of discrimination)
dan keinginan untuk hidup. Untuk dapat hidup, ia membutuhkan sesuatu. Alat
untuk memenuhi kebutuhan itu bersumber dari lingkungan. Oleh karena itu lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap
manusia itu sendiri, hal ini dapat dilihat pada gambar siklus hubungan manusia
dengan lingkungan. Hal tersebut
menggambarkan bahwa lingkungan dan manusia atau manusia dan lingkungan
merupakan hal yang tak terpisahkan sebagai ekosistem, yang dapat dibedakan
mejadi:
a.
Lingkungan alam yang befungsi sebagai sumber
daya alam
b.
Lingkungan manusia yang berfungsi sebagai sumber
daya manusia
c.
Lingkungan buatan yang berfungsi sebagai sumber
daya buatan
2.1.2. Pengertian Budaya
Kata budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta,
karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan kata
kebudayaan, yang berasal dari Bahasa Sangsekerta budhayah yaitu bentuk jamak
dari budhi yang berarti budi atau akal. Budaya atau kebudayaan dalam Bahasa
Belanda di istilahkan dengan kata culturur. Dalam bahasa Inggris culture. Sedangkan
dalam bahasa Latin dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan,
menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini
berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia
untuk mengolah dan mengubah alam. Definisi
budaya dalam pandangan ahli antropologi sangat berbeda dengan pandangan ahli
berbagai ilmu sosial lain. Ahli-ahli antropologi merumuskan definisi budaya
sebagai berikut: E.B. Taylor: 1871
berpendapat bahwa budaya adalah: Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi
pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta
kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota
masyarakat.
Sedangkan Linton: 1940, mengartikan budaya dengan: Keseluruhan dari
pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan
diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu. Adapun Kluckhohn dan Kelly: 1945 berpendapat bahwa budaya adalah:
Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun
implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang
potensial untuk perilaku manusia Lain
halnya dengan Koentjaraningrat: 1979 yang mengatikan budaya dengan: Keseluruhan
sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Berdasarkan definisi para ahli tersebut
dapat dinyatakan bahwa unsur belajar merupakan hal terpenting dalam tindakan
manusia yang berkebudayaan. Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka
kehidupan bermasyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar.
Dari kerangka tersebut diatas tampak jelas benang merah yang
menghubungkan antara pendidikan dan kebudayaan. Dimana budaya lahir melalui
proses belajar yang merupakan kegiatan inti dalam dunia pendidikan. Selain itu terdapat tiga wujud kebudayaan
yaitu :
1.
wujud pikiran, gagasan, ide-ide, norma-norma,
peraturan,dan sebagainya. Wujud pertama dari kebudayaan ini bersifat abstrak,
berada dalam pikiran masing-masing anggota masyarakat di tempat kebudayaan itu
hidup;
2.
aktifitas kelakuan berpola manusia dalam
masyarakat. Sistem sosial terdiri atas aktifitas-aktifitas manusia yang saling
berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain setiap saat dan
selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat kelakuan. Sistem sosial
ini bersifat nyata atau konkret;
3.
Wujud fisik, merupakan seluruh total hasil fisik
dari aktifitas perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat.
2.2. Manusia
Sebagai Makhluk Budaya
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa manusia sebagai makhluk yang
paling sempurna bila dibanding dengan makhluk lainnya, mempunyai kewajiban dan
tanggung jawab untuk mengelola bumi. Untuk menjadi manusia yang berbudaya,
harus memiliki ilmu pengetahuan, tekhnologi, budaya dan industrialisasi serta
akhlak yang tinggi (tata nilai budaya) sebagai suatu kesinambungan yang saling
bersinergi. Hommes mengemukakan
bahwa, informasi IPTEK yang bersumber dari sesuatu masyarakat lain tak dapat
lepas dari landasan budaya masyarakat yang membentuk informasi tersebut.
Karenanya di tiap informasi IPTEK selalu terkandung isyarat-isyarat budaya
masyarakat asalnya. Selanjutnya dikemukakan juga bahwa, karena
perbedaan-perbedaan tata nilai budaya dari masyarakat pengguna dan masyarakat
asal teknologinya, isyarat-isyarat tersebut dapat diartikan lain oleh
masyarakat penerimanya.
Disinilah peran manusia sebagai makhluk yang diberi kelebihan dalam
segala hal, untuk dapat memanfaatkan segala fasilitas yang disediakan oleh
Allah SWT melalui alam ini. Sehingga dengan alam tersebut manusia dapat
membentuk suatu kebudayaan yang bermartabat dan bernilai tinggi. Namun perlu
digarisbawahi bahwa setiap kebudayaan akan bernilai tatkala manusia sebagai
masyarakat mampu melaksanakan norma-norma yang ada sesuai dengan tata aturan
agama.
JJ. Hoeningman membagi kebudyaan dlm 3 wujud :
Gagasan :
Kebudayaan yang berbentuk kumpulan, ide, gagasan,nilai,norma, peraturan yang
sifatnya abstrak.
Aktivitas (tindakan) : Wujud
kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.,
sering disebut sebagai system sosial, yaitu aktivitas-aktivitas manusia yang
saling berinteraksi, mengadakan kontak, bergaul dengan manusia lainnya menurut
pola-pola tertentu.sifatnya konkret dapat diamati.
Artefak ( karya) : Wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari
aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa
benda-benda yang dapat diraba dan dilihat.
a.
Etika dan Estetika Berbudaya
Etika manusia dalam berbudaya
Etika berasal dari bahasa Yuniani, ethos. Ada 3 jenis makna etika menurut Bertens :
-
Etika dalam arti nilai-nilai atau norma yang
menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok orang dalm mengatur tingkah laku.
-
Etika dalam arti kumpulan asas atau nilai moral
( kode etik)
-
Etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang baik
dan buruk ( filsafat moral)
Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Manusia
beretika, akan menghasilkan budaya yang beretika. Etika berbudaya mengandung
tuntutan bahwa budaya yang diciptakan harus mengandung niali-nilai etik yang
bersifat universal. Meskipun demikian suatu bidaya yang dihasilkan memenuhi
nilai-nilai etik atau tidak bergantung dari paham atau ideologi yang diyakini
oleh masyarakat.
Estetika manusia dalam berbudaya
Estetika dapat dikatakan sebagi teori tentang keindahan atau seni,
Estetika berkaitan dengan nilai indah-jelek. Makna keindahan :
·
Secara luas, keindahan mengandung ide kebaikan
·
Secara sempit, yaitu indah dalam lingkup
persepsi penglihatan ( bentuk dan warna)
·
Secara estetik murni, menyangkut pengalaman
estetik sesorang dalam hubungannya dengan segala ssuatu yang diresapinya
melalui indera.
Estetika berifat subyektif,sehingga tidak bisa dipaksakan. Tetapi yang
penting adalah menghargai keindahan budaya yang dihasilkan oleh orang lain.
b.
Problematika Kebudayaan
Kebudayaan mengalami dinamika seiring dengan dinamika pergaulan hidup
manusia sebagi pemilik kebudayaan, Dinamika Kebudayaan berupa :
1.
Pewarisan kebudayaan
Proses pemindahan, penerusan, pemilikan dan pemakaian kebudyaan dari
generasi ke generasi secara berkesinambungan Pewarisan dapt melalui :
·
Enkulturasi (Pembudayaan) : Proses mempelajari
dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan system norma, adapt dan
peraturan hidup dalam kebudyaan
·
Sosialisasi (Proses pemasyarakatan)
Individu menyesuaikan diri dengan individu lain dalam masyarakat. Masalah dalam Pewarisan Kebudayaan :
a.
Sesuai/tidaknya budaya warisan dengan dinamika
masyarakat saat sekarang.
b.
Penolakan generasi penerima terhadap warisan
budaya
c.
Munculnya budaya baru yang tidak sesuai dengan
budaya warisan.
2.
Perubahan kebudayaan
Perubahan yang terjadi sebagai akibat adanya ketidaksesuaian diantara
unsure-unsur budaya yang saling berbeda sehingga terjadi keadaan dimana
fungsinya tidak sesuai dengan bagi kehidupan. Contoh : pembangunan , modernisasi
2.3. Manusia, Sains, Teknologi dan Seni
Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains
merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan
pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan
proses. Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses
sains meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan
yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara
bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas
pengamatan eksperimen dan induksi. Sebagian
ahli mengatakan bahwa teknologi dimulai terlebih dahulu daripada sains, karena
manusia sejak awal menggunakan benda sebagai alat. Sebagian ahli yang lain
beranggapan sains tumbuh terlebih dahulu, karena benda sebelum digunakan pasti
perlu diketahi terlebih dahulu. Namun demikian cukup dimengerti jika teknologi
kemudian dirumuskan dengan pengertian yang lebar, yaitu alat atau pengetahuan
manusia untuk melakukan adaptasi terhadap lingkungannya atau keberlangsungan
hidupnya.
Secara etimologis, teknologi berasal dari kata
techne (Yunani) artinya keahlian dan logia artinya perkataan. Bell (2001)
mendefinisikan teknologi sebagai seperangkat instrumen yang memungkinkan
kekuatan manusia untuk mengubah sumber menjadi kesejahteraan. Heibish (2001)
mendefinisikan teknologi sebagai pengetahuan yang telah ditransformasikan
menjadi produk, proses dan jasa maupun struktur organisasi. Pengembangan
sains tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat, sedangkan
teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan penemuan,
berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi
pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan
demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan
(Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4).
Kebutuhan manusia bukan semata melangsungkan
hajat hidup, melainkan juga nilai-nilai etika dan estetika. Dalam konteks ini,
seni menjadi kebutuhan dasar manusia secara kodrati. Seni berpengaruh terhadap
kehidupan manusia. Manusia tidak hanya dapat menggagas, melainkan
juga mengekspresikan gagasannya. Semua bidang kehidupan manusia, baik
ekonomi, sosial politik, dan budaya, memerlukan ekspresi Dengan ekspresi, maka
terjadi hubungan antarmanusia. Dalam
ekspresi diri terdapat ekspresi khusus yang disebut kesenian. Dengan kesenian
manusia mengekspresikan gagasan estetik atau pengalaman estetik. Kesenian
merupakan penjelmaan pengalaman estetik untuk mewujudkan manusia dewasa yang
sadar akan arti pentingnya berbudaya agar tidak kehilangan jati diri dan akal
sehat. Pada dasarnya iptek bersifat netral. Yang menjadikannya
bermanfaat atau merusak adalah manusia yang menguasai dan mengendalikannya,
yakni para pembuat keputusan atau pembuat kebijakan, termasuk ke dalamnya
ilmuwan, teknolog, politisi, pengusaha, dan masyarakat umum. Dengan demikian,
kunci keberhasilan bagi upaya pemanfaatan iptek bagi kesejahteraan manusia
terletak pada pembinaan faktor manusia dalam mengembangkan dan menerapkan iptek
ataupun mengkonsumsi produk-produk iptek. Pada
masyarakat Indonesia pada umumnya, budaya terhadap Iptek belum terbukti telah
berkembang secara memadai. Hal ini tercermin dari pola pikir masyarakat yang
belum bisa dianggap mempunyai penalaran objektif, rasional, maju, unggul, dan
mandiri. Pola pikir masyarakat belum mendukung kegiatan berkreasi, mencipta,
dan belajar.
Mekanisme yang menjembatani interaksi antara
penyedia sains dan teknologi dengan kebutuhan pengguna juga belum optimal. Hal
ini bisa dilihat dari belum tertatanya lembaga yang mengolah dan menterjemahkan
hasil pengembangan sains dan teknologi menjadi teknologi yang siap pakai untuk
difungsikan dalam sistem produksi masyarakat. Di samping itu kebijakan keuangan
juga dirasakan belum mendukung pengembangan kemampuan sains dan teknologi. Lembaga
penelitian dan pengembangan Iptek masih sering diartikan dengan institusi yang
sulit berkembang. Selain itu, kegiatan penelitian yang dilakukan kurang
didorong oleh kebutuhan penelitian yang jelas dan eksplisit. Ini menyebabkan
lembaga-lembaga litbang tidak memiliki kewibawaan sebagai sebuah instansi yang
memberi pijakan scientifik sehingga berakibat pada inefisiensi kegiatan
penelitian. Dampak lainnya adalah merapuhnya budaya penelitian sebagai pondasi
kelembagaan riset dan teknologi, seperti yang terjadi pada sektor pendidikan.
Ini berarti pendidikan di Indonesia dapat dikatakan belum mampu menanamkan
karakter budaya bangsa yang memiliki rasa ingin tahu, budaya belajar dan
apresiasi yang tinggi pada pencapaian ilmiah (Zuhal, 2007). Masalah dan kendala
tersebut secara langsung telah menghambat perkembangan sains dan teknologi di
Indonesia.
2.4. Kelebihan Manusia
1.
Alam memiliki sifat wujud
2.
Tumbuhan memiliki sifat wujud & hidup
3.
Binatang memiliki sifat wujud, hidup & dibekali nafsu
4.
Manusia memiliki sifat wujud, hidup, dibekali nafsu,
serta akal budi
·
Manusia memiliki akal-budi yang merupakan potensi &
kelebihan manusia yang tidak dimiliki makhluk lain.
·
Akal : kemampuan berpikir, yang digunakan manusia utk
memecahkan masalah2 hidup yang dihadapinya
·
Fungsi akal : berpikir, yg mendorong untk aktif berbuat
demi kepentingan & peningkatan hidup manusia.
·
Budi : akal (budh / bahasa Sansekerta), tabiat, perangai
& akhlak
·
Budi : menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan
yg bermakna dgn alam sekitarnya dgn jalan memberikan penilaian objektif thd
objek & kejadian (Sutan Takdir Alisyahbana).
·
Dengan akal-budinya manusia mampu menciptakan,
mengkreasi, memperbaharui, memperbaiki, mengembangkan dan meningkatkan sesuatu
yang ada untuk kepentingan hidup manusia (contoh membangun rumah, membuat aneka
masakan, menciptakan beragam jenis pakaian, membuat alat transportasi.
BAB
III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan:
-
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang
berakal, berbudi, dan berbudaya
-
Wujud budaya dapat bersifat konkret yaitu
sebagai ide, gagasan, norma dan peraturan bagi manusia dan abstrak yaitu
sebagai tinfakan, peraturan, dan aktivitas manusia.
-
Kebudayaan merupakan hasil cipta, karsa, rasa
manusia yang diperoleh dari perkembangan manusia sebagai masyarakat.
3.2. Saran
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta
wawasan pembaca. Selanjutnya pembuat makalah mengharapkan kritik dan saran
pembaca demi kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
A.A. Sitompul.
1993. Manusia dan Budaya. Jakarta: Gunung Mulia
Maas, Dp. 1985. Materi Pokok UT Antropologi Budaya.
Jakarta: Universitas Terbuka
Koentjaraningrat. 1975. Manusia dan Kebudayaan di
Indonesia. Jakarta: Jambatan
Ndraha, Taliziduhu. 2003. Budaya Organisasi.
Jakarta: Rineka Cipta
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Kamus
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar